Dari Zero To Hero

Pengaruh Gaya Hidup Konsumtif dan FOMO terhadap Minat Menabung Generasi Z di Era Digital.

Penurunan Minat Menabung Generasi Z (Gen Z)

 


Penelitian dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa Gen Z, yang lahir antara tahun 1997-2012, cenderung memiliki minat menabung yang lebih rendah dibandingkan generasi sebelumnya. Fenomena ini didukung oleh berbagai faktor, di antaranya:

1. Rendahnya Literasi Keuangan

Studi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019 menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan Gen Z di Indonesia sebesar 44,04%. Angka ini sedikit lebih rendah dibanding generasi milenial. Hal ini mengindikasikan bahwa banyak Gen Z belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai pengelolaan keuangan, pentingnya investasi, dan risiko utang.

  • Sumber: Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2019) dan Jurnal E-Journal Unesa.
  • Dampaknya: Rendahnya literasi keuangan membuat Gen Z rentan terjebak dalam utang, terutama dari pinjaman online (pinjol). Hal ini juga membuat mereka menjadi target empuk penipuan investasi bodong.

2. Gaya Hidup Konsumtif dan Pengaruh Media Sosial

Generasi Z tumbuh di era digital, di mana media sosial sangat memengaruhi perilaku dan keputusan.

  • Budaya Konsumtif: Sebuah survei yang dikutip oleh OCBC menunjukkan bahwa 96% responden Gen Z mengaku pernah membeli produk karena melihatnya di media sosial. Mereka cenderung mudah percaya pada ulasan produk dari influencer dan terdorong untuk mengikuti tren demi citra diri.
  • Fear of Missing Out (FOMO): Tren di media sosial seringkali memicu Gen Z untuk membeli barang atau menjalani pengalaman tertentu agar tidak merasa ketinggalan. Sebuah riset dari Kredit Karma (2018) menemukan bahwa 39% Gen Z memiliki utang untuk mengikuti tren komunitasnya.
  • Sumber: OCBC, Jurnal Penelitian di ResearchGate dan RM.ID.

3. Tantangan Ekonomi yang Berat

Faktor ekonomi juga menjadi tantangan besar bagi Gen Z, yang sebagian besar baru memulai karier.

  • Biaya Hidup dan Inflasi: Berdasarkan survei Deloitte 2023, biaya hidup menjadi kekhawatiran utama bagi 53% Gen Z di seluruh dunia. Data Bank Indonesia juga menunjukkan bahwa kenaikan inflasi pangan melampaui pertumbuhan upah minimum, membuat Gen Z, terutama yang tinggal di kota besar, kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, apalagi menabung.
  • Pinjaman Online: Rendahnya literasi keuangan, ditambah dengan tekanan ekonomi, membuat Gen Z mudah terjerat pinjol. OJK menyebutkan Gen Z dan milenial adalah pengguna aktif pinjaman online. Hal ini dikarenakan pinjol sering kali dianggap sebagai solusi instan untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup tanpa mempertimbangkan konsekuensi bunga dan utang yang menumpuk.
  • Sumber: Deloitte (2023), Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Diposting Agustus 14, 2025 | Komentar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar